Blog
Filosofi Memanah
Filosofi Memanah
Blog
Filosofi Memanah
Written by Andrie Wongso Monday, 20 April 2009 01:00
Kita sering kali terus bekerja tanpa mengenal waktu beristirahat. Bahkan banyak diantara kita yang membawa pulang pekerjaan.
Seolah waktu yang ada akan tersia – sia tanpa bekerja. Kisah mengenai Raja yang gagal berburu karena panah ini, semoga dapat memberikan inspirasi untuk kita.
Pada suatu senja yang kelabu, terlihatlah rombongan Raja yang baru pulang dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial bagi mereka, karena mereka sama sekali tidak membawa hasil buruan. Seolah – olah anak panah dan busur, tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya. Setibanya dipinggir hutan, Raja memutuskan untuk beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang Pemburu yang terkenal karena kehebatannya memanah.
Dengan tergopoh – gopoh, Pemburu itu menyambut kedatangan Raja beserta rombongannya. Ketika berbasa – basi, Pemburu itu memperhatikan air muka Raja yang nampak jengkel dan tidak bahagia. Pemburu itupun lalu menanyakan alasan kejengkelan dan ketidakbahagiaan itu. Tetapi Raja malah beranjak pergi tanpa menjawab pertanyaan Pemburu itu dan menghampiri sebuah busur tanpa tali yang tergeletak di sudut ruangan. Raja pun mempertanyakan busur yang dilihatnya tanpa tali itu kepada Pemburu. Menjawab pertanyaan Raja, Pemburu pun menjelaskan alasan mengapa tali busurnya sengaja dilepas. Menurut Pemburu itu, busur membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Jadi ketika talinya dipasang kembali, busur itu tetap lentur untuk melontar anak panahnya. Karena menurut pengalaman, tali busur yang terus tegang tidak bisa dipergunakan secara optimal. Raja memuji pengetahuan Pemburu yang ahli memanah itu. Dan memang itu yang diajarkan secara turun temurun di keluarga pemburu itu. Pemburu itu lalu menambahkan bahwa pelajaran lain yang tidak kalah penting yang dilakukan adalah menjaga pikiran.
Karena sehebat apapun kita, jika pikiran kita tidak fokus, perasaan kita tidak seirama dengan tangan, anak panah dan busur, maka hasilnya juga tidak akan maksimal untuk mencapai sasaran buruan yang kita inginkan. Raja terkesima mendengar penjelasan itu. Sedetik kemudian Raja pun tertawa dan berterima kasih kepada pemburu itu atas pelajaran berharga yang diberikan. Setelah cukup beristirahat, Raja dan rombongan pun pulang setelah dengan perasaan gembira sambil meyakinkan diri bahwa perburuan berikutnya pasti akan berhasil lebih baik.
Pengertian tentang panah dan tali busurnya itu bisa diaplikasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita butuh keahlian dalam mengatur irama dan waktu kerja hingga kita bisa beristirahat agar keefektifitasan kerja dapat terjaga. Dan kemampuan melakukan fokus dalam mengerjakan segala kegiatan harus mampu kita bina dan tumbuh kembangkan. Dengan kemampuan menggunakan dua pelajaran tadi, kita akan menjadi manusia efektif, maksimal dan memuaskan. (hac)
Realtime Live Streaming
Smart Programs
- Smart Emotion ( 55 )
- Smart Etos ( 56 )
- Smart Motivasion ( 37 )
- Smart Sharing on Sales and Marketing ( 57 )