Friday, July 30, 2010
   
Text Size

Site Search powered by Ajax

Blog

Buah Ketidakpuasan

Seringnya kita sebagai manusia mengalami penyesalan atas apa yang telah kita lakukan. Bahkan yang lebih ironis lagi kita terus menerus memikirkan hal yang sudah lewat itu secara berlarut – larut, padahal apa yang ada di depan kita ini sudah jauh melaju.

Berikut ini adalah kisah mengenai seorang pedagang yang meninggal karena kekecewaan dan penyesalan. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari ilustrasi di bawah ini.

Tinggalah seorang pedagang di sebuah kota. Hasil kerja kerasnya selama ini telah membawanya pada pengumpulan harta kekayaan yang tidak sedikit. Investasinya di berbagai bidang berkembang cukup baik. Suatu hari seorang tamu datang ke rumahnya. Maksud tamu itu adalah membeli sebidang tanah yang tidak digunakan, milik pedagang itu. Tanah itu memang tidak menghasilkan, malah pedagang itu harus membayar pajak dan upah bagi pekerja yang membantunya memperbaiki dan mengecat pagar. Dan itu semua menjadi beban bagi pedagang itu. Setelah berpikir untung ruginya, pedagang itupun menjual tanahnya pada tamu itu dengan harga tinggi. 

Tidak lama setelah itu, seorang sahabatnya datang. Dia memberitakan kabar terakhir mengenai tanah milik pedagang itu. Menurut sahabatnya, di atas tanah tersebut akan dibangun perumahan elit, yang mana developernya akan menggantinya dengan harga tinggi. Mendengar hal itu, sepulang sahabatnya, maka perasaan puas dan bahagia yang dirasakan selama beberapa setelah menjual tanahnya, hilang lenyap entah kemana. Semua perasaan sukacita itu berganti dengan perasaan kecewa yang makin hari makin mendalam. Dan pada suatu malam, puncak kemarahannya meluap karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hingga suatu hari, pembantunya menemukan pedagang itu tidak sadarkan diri karena over dosis obat tidur. Sayangnya dokter tidak sanggup menyelamatkan nyawa pedagang itu. Ironisnya, pedagang itu meninggalkan harta yang begitu banyak dan meninggal dalam keadaan memikirkan kelebihan harta yang bukan miliknya. 

Kisah diatas menggambarkan kerapuhan jiwa dan mental manusia, jika hidupnya diombang ambing oleh perbandingan yang menghasilkan penyesalan dan penderitaan. Sebagai manusia kita membutuhkan materi. Tapi tidak semestinya menjadi budak materi malah kita harus menjadi majikan bagi materi itu. Untuk apa hidup bergelimangan harta tapi jiwa kita miskin dan rapuh. Kehidupan tidak selalu menyenangkan, terkadang kita harus belajar menerima hal kecil yang merugikan, sampai mampu menerima hal besar yang tidak memuaskan. Jika kita mampu menerima ketidakpuasan dan tidak bisa diubah lagi sebagai apa adanya, itulah kekayaan jiwa dan mental. Dengan sikap mental seperti itu kita akan menikmati kehidupan ini setiap hari dengan rasa syukur yang alami, penuh berkah dan kebahagiaan. (hac)

Realtime Live Streaming

Disclaimer

Important: This demo is purely for demonstrative purposes. Content displayed is showcased as sample data. All images are copyrighted to their respective owners. All content cited is derived from their respective sources.

Login Form