Friday, July 30, 2010
   
Text Size

Site Search powered by Ajax

Top Headlines

Filosofi Memanah

Kita sering kali terus bekerja tanpa mengenal waktu beristirahat. Bahkan banyak diantara kita yang membawa pulang pekerjaan.

Seolah waktu yang ada akan tersia – sia tanpa bekerja. Kisah mengenai Raja yang gagal berburu karena panah ini, semoga dapat memberikan inspirasi untuk kita.
Pada suatu senja yang kelabu, terlihatlah rombongan Raja yang baru pulang dari berburu di hutan. Hari itu adalah hari tersial bagi mereka, karena mereka sama sekali tidak membawa hasil buruan. Seolah – olah anak panah dan busur, tidak bisa dikendalikan dengan baik seperti biasanya. Setibanya dipinggir hutan, Raja memutuskan untuk beristirahat sejenak di rumah sederhana milik seorang Pemburu yang terkenal karena kehebatannya memanah. 

Dengan tergopoh – gopoh, Pemburu itu menyambut kedatangan Raja beserta rombongannya. Ketika berbasa – basi, Pemburu itu memperhatikan air muka Raja yang nampak jengkel dan tidak bahagia. Pemburu itupun lalu menanyakan alasan kejengkelan dan ketidakbahagiaan itu. Tetapi Raja malah beranjak pergi tanpa menjawab pertanyaan Pemburu itu dan menghampiri sebuah busur tanpa tali yang tergeletak di sudut ruangan. Raja pun mempertanyakan busur yang dilihatnya tanpa tali itu kepada Pemburu. Menjawab pertanyaan Raja, Pemburu pun menjelaskan alasan mengapa tali busurnya sengaja dilepas. Menurut Pemburu itu, busur membutuhkan waktu untuk beristirahat. 

Jadi ketika talinya dipasang kembali, busur itu tetap lentur untuk melontar anak panahnya. Karena menurut pengalaman, tali busur yang terus tegang tidak bisa dipergunakan secara optimal. Raja memuji pengetahuan Pemburu yang ahli memanah itu. Dan memang itu yang diajarkan secara turun temurun di keluarga pemburu itu. Pemburu itu lalu menambahkan bahwa pelajaran lain yang tidak kalah penting yang dilakukan adalah menjaga pikiran. 

Karena sehebat apapun kita, jika pikiran kita tidak fokus, perasaan kita tidak seirama dengan tangan, anak panah dan busur, maka hasilnya juga tidak akan maksimal untuk mencapai sasaran buruan yang kita inginkan. Raja terkesima mendengar penjelasan itu. Sedetik kemudian Raja pun tertawa dan berterima kasih kepada pemburu itu atas pelajaran berharga yang diberikan. Setelah cukup beristirahat, Raja dan rombongan pun pulang setelah dengan perasaan gembira sambil meyakinkan diri bahwa perburuan berikutnya pasti akan berhasil lebih baik. 

Pengertian tentang panah dan tali busurnya itu bisa diaplikasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita butuh keahlian dalam mengatur irama dan waktu kerja hingga kita bisa beristirahat agar keefektifitasan kerja dapat terjaga. Dan kemampuan melakukan fokus dalam mengerjakan segala kegiatan harus mampu kita bina dan tumbuh kembangkan. Dengan kemampuan menggunakan dua pelajaran tadi, kita akan menjadi manusia efektif, maksimal dan memuaskan. (hac)
 

Happiness and Natural Law

Kita pasti sering mendengar kata ketidakpastian. Dimana ketidakpastian adalah suatu hal yang pasti terjadi.

Dan hukum alam juga menganut hal ini. Hukum alam adalah segala sesuatu yang ada di balik segala sesuatu. 
Bisakah kita pastikan bahwa setiap Minggu panas matahari akan selalu terik dan Senin pagi akan mendung kelabu ? Kita tidak pernah tahu kan? Bahkan ketika pagi hari mendung menggantung, maka siang hari bisa sangat cerah sekali. 

Jika kita ingin bahagia maka kita harus mengetahui hukum yang berlaku dalam kehidupan ini. Ada konsep hukum yang mengatur segalanya yang tidak bisa kita ubah. Bahkan bagi yang percaya atau tidak maka hokum ini tetap akan terlibat dalam hukum ini. 

Ciri hukum ini adalah berlaku dimana saja, kapan saja dan untuk siapa saja. Contoh hukum alam adalah hukum gravitasi yang pasti berlaku pada semua manusia yang hidup di dunia. Contoh lain adalah hukum kepercayaan, dimana tidak ada orang yang ingini dibohongi. Dan ini dikaitkan dengan bisnis maka jika kepercayaan meningkat, maka kecepatan meningkat dan biaya operasional pun akan turun. Begitu juga sebaliknya. 

Selain dengan mengikuti hukum alam kita bisa bahagia, maka kita juga harus dapat menjaga kondisi batin. Caranya adalah dengan menyaring makanan bagi kepala kita. Dengan mengijinkan makanan positif masuk dalam kepala kita, maka kita bisa memilih hal baik yang akan kita lakukan dan membuat kita bahagia. Karena itu penting sekali untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada, agar kita bahagia saat ini juga. (hac)
 

Melewati Masa Krisis Dengan Menggunakan Kecerdasan Emosional

Masa krisis sering terjadi pada kita dalam kondisi yang berbeda. Bisa masalah keuangan, tidak juga mendapat pekerjaan dan banyak masalah lainnya.

Hal ini bisa diatasi dengan kecerdasan emosional. Sehingga kita bisa menghadapinya dengan tenang. 
Dalam menghadapi krisis ini kita bisa belajar dari banyak orang termasuk dari Barack Obama. Obama yang mempunyai ibu kulit putih dan ayah kulit hitam lebih memilih dan menempatkan diri sebagai kulit hitam. Untuk memutuskan ini Obama menghadapi proses panjang. Selain itu juga krisis dalam kehidupannya membawanya mencoba ganja.  Namun dia tetap bangkit dari segala krisis yang menimpanya.           

Ada 4 jenis orang dalam menghadapi krisis:
  • Manusia kayu lapuk: yang ketika dia menghadapi tekanan langsung patah.
  • Manusia batang besi: yang ketika dia sampai pada tekanan tertentu, dia masih bisa bertahan, tapi setelah dapat tekanan tertentu akhirnya di bengkok juga.
  • Manusia kapas: dia bisa kembali pada posisi semula walau mendapat tekanan.
  • Manusia bola ping pong: ketika diberi tekanan maka orang seperti ini akan naik, melambung jauh tinggi dari pada tekanan yang di berikan. 

Sementara itu ada 4 tahapan yang harus dilalui dalam krisis yaitu:
Menghadapi: melihat dan siap dengan kondisi ini.
Menyikapi : kita bisa melakukan pilihan atas sikap yang bisa dilakukan dalam menghadapi krisis. Dimana mengutip dalam bahasa Cina, krisis adalah gabungan dari 2 kata: danger &  opportunity.
Melewati: kita harus mengambil tindakan atas krisis yang menimpa kita. Tapi dalam kecerdasan emosional kita selalu punya pilihan, tidak hanya pilihan berpikir tapi juga pilihan perasaan-perasaan kita. 
Merayakan: ketika krisis telah lewat dan kita melihat kembali krisis yang telah berhasil kita lalui, maka akhirnya kita belajar sesuatu dari proses menjalani dan menghadapi krisis tersebut. 

Perasaan kita mempengaruhi tindakan kita. Yakinlah jika kita melakukan hal yang benar.
   

Leadership Lesson From the World Greatest CEO’s

Orang yang berada di tataran tertinggi dan sukses memimpin perusahaannya sampai mencapai keberhasilan yang luar biasa, dipastikan mempunyai formula yang bisa kita contek kinerjanya untuk mengembangkan usaha kita.

Ada beberapa CEO yang kepimpinannya bisa kita contek. Salah satunya adalah Anne Malcahy – Chairman & CEO Xerox Corporation.Pada awal karirnya Anne menduduki posisi Sales. Kemudian tak berapa lama posisinya naik menjadi HR Manager. Saat itu Anne sudah bekerja selama 25 tahun ketika Xerox kalah dalam kompetisi. Anne pun kemudian ditawari untuk menjadi Chairman dan CEO. Anne setuju untuk menduduki posisi itu. Alasan Anne menerimanya karena dia merasa sudah bekerja di perusahaan itu begitu lama dan sudah tahu budaya perusahaannya. 

Selain itu Anne juga percaya dengan orang – orang yang berada didalamnya. Kepercayaan kepada orang – orang yang berada di dalam perusahaan adalah hal paling penting dalam dunia kerja. Yang bisa kita pelajari dari kepemimpinan Anne adalah dia meminta masukan dari para staffnya sampai ke level yang paling bawah. Masukan itu berupa kesalahan perusahaannya dan apa yang bisa dilakukan untuk kembali meningkatkan perusahaan itu. Anne melakukan itu dengan ketulusan yang sesungguhnya. Untuk lebih merasakan juga mereka akhirnya terjun ke lapangan. Mereka tidak sungkan untuk berhubungan langsung dengan supplier dan end user. Mereka juga menanyakan apa yang menjadi kepuasan mereka terhadap produk yang mereka pakai. Dari sanalah ketulusan dan keseriusan kerja sang CEO terlihat. Anne melihat semua ini juga sebagai prioritas. Sehingga dia mau menjalani proses ini. Akhirnya dia mendapatkan kepercayaan dari karyawan dan pelanggannya. (hac)
 

Buah Ketidakpuasan

Seringnya kita sebagai manusia mengalami penyesalan atas apa yang telah kita lakukan. Bahkan yang lebih ironis lagi kita terus menerus memikirkan hal yang sudah lewat itu secara berlarut – larut, padahal apa yang ada di depan kita ini sudah jauh melaju.

Berikut ini adalah kisah mengenai seorang pedagang yang meninggal karena kekecewaan dan penyesalan. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari ilustrasi di bawah ini.

Tinggalah seorang pedagang di sebuah kota. Hasil kerja kerasnya selama ini telah membawanya pada pengumpulan harta kekayaan yang tidak sedikit. Investasinya di berbagai bidang berkembang cukup baik. Suatu hari seorang tamu datang ke rumahnya. Maksud tamu itu adalah membeli sebidang tanah yang tidak digunakan, milik pedagang itu. Tanah itu memang tidak menghasilkan, malah pedagang itu harus membayar pajak dan upah bagi pekerja yang membantunya memperbaiki dan mengecat pagar. Dan itu semua menjadi beban bagi pedagang itu. Setelah berpikir untung ruginya, pedagang itupun menjual tanahnya pada tamu itu dengan harga tinggi. 

Tidak lama setelah itu, seorang sahabatnya datang. Dia memberitakan kabar terakhir mengenai tanah milik pedagang itu. Menurut sahabatnya, di atas tanah tersebut akan dibangun perumahan elit, yang mana developernya akan menggantinya dengan harga tinggi. Mendengar hal itu, sepulang sahabatnya, maka perasaan puas dan bahagia yang dirasakan selama beberapa setelah menjual tanahnya, hilang lenyap entah kemana. Semua perasaan sukacita itu berganti dengan perasaan kecewa yang makin hari makin mendalam. Dan pada suatu malam, puncak kemarahannya meluap karena tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hingga suatu hari, pembantunya menemukan pedagang itu tidak sadarkan diri karena over dosis obat tidur. Sayangnya dokter tidak sanggup menyelamatkan nyawa pedagang itu. Ironisnya, pedagang itu meninggalkan harta yang begitu banyak dan meninggal dalam keadaan memikirkan kelebihan harta yang bukan miliknya. 

Kisah diatas menggambarkan kerapuhan jiwa dan mental manusia, jika hidupnya diombang ambing oleh perbandingan yang menghasilkan penyesalan dan penderitaan. Sebagai manusia kita membutuhkan materi. Tapi tidak semestinya menjadi budak materi malah kita harus menjadi majikan bagi materi itu. Untuk apa hidup bergelimangan harta tapi jiwa kita miskin dan rapuh. Kehidupan tidak selalu menyenangkan, terkadang kita harus belajar menerima hal kecil yang merugikan, sampai mampu menerima hal besar yang tidak memuaskan. Jika kita mampu menerima ketidakpuasan dan tidak bisa diubah lagi sebagai apa adanya, itulah kekayaan jiwa dan mental. Dengan sikap mental seperti itu kita akan menikmati kehidupan ini setiap hari dengan rasa syukur yang alami, penuh berkah dan kebahagiaan. (hac)
   

Page 1 of 2

Realtime Live Streaming

Disclaimer

Important: This demo is purely for demonstrative purposes. Content displayed is showcased as sample data. All images are copyrighted to their respective owners. All content cited is derived from their respective sources.

Login Form